Preambule

Saya lupa kapan pastinya, apa penyebabnya, sehingga saya bisa berpikir demikian: keterampilan menulis adalah sebuah kemampuan yang kiranya wajib diasah.

Ada kepuasan misterius ketika sebuah cerita berhasil dituntaskan. Mungkin hasrat yang terpendam memang menjadikannya demikian adanya. Hasrat terpendam untuk membangun sebuah tatanan dunia, seperti yang saya harapkan.

 

Menulis novel adalah sebuah tindakan pemberontakan terhadap realitas, terhadap Allah, terhadap ciptaan Allah yang adalah realitas. Inilah upaya korektif, mengubah atau menghapus realitas nyata, menggantikannya dengan realitas fiktif gubahan si penulis. Akar panggilannya adalah rasa tidak puas terhadap kehidupan; setiap novel adalah pembunuhan Tuhan secara diam-diam, pembunuhan simbolik atas realitas. ~ Mario Vargas Llosa

The Ministry of Fear (1944) © Fritz Lang

Novel, roman, cerita pendek, cerita pendek yang pendek, cerita pendek yang sangat pendek, atau apapun sebutannya menurut tertib sastra yang sebenar-benarnya, kiranya dapat pula dipandang seturut ujaran Vargas Llosa itu.

Barangkali saya memang tidak puas terhadap realitas, lalu diam-diam melakukan pembunuhan atasnya. Namun saya tidak punya jurus-jurus ampuh untuk melakukan pembunuhan yang baik dan benar.

Maka ampunilah bila apa-apa yang rekan temukan di laman blog ini tidak memuaskan. Saya bukan pembunuh keji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s