Kisah Picisan di Sebuah Halte Depan Gedung Perkantoran

Aku pasti telah mengunyah ayam lebih dari tiga puluh dua kali, hingga rasanya hambar. Tapi dari tadi memang semua yang aku makan rasanya tawar. Tubuhku punya mekanisme aneh ketika dilanda rasa tegang. Selain lidahku kehilangan fungsi pengecapnya, kakiku akan gemetaran, juga tubuhku mulai panas, terutama dibagian kulit wajah. Dahiku mulai keringatan, padahal kantin ini ber-AC.

Sementara ketegangan menyelimuti sekujur tubuhku, Ami, duduk di depanku, kelihatannya tetap tenang. Ia seperti sudah tahu sebelumnya.

“Jadi gimana, Mi? maukah kamu?” aku berusaha memecah keheningan yang mulai terasa ganjil, sambil berusaha agar tidak gagap.

Ami menatapku tajam. Matanya yang hitam, bening, beradu sebentar denganku. Udara sekitarku jadi terasa makin gerah. Aku beranikan diri mengambil tangannya, bermaksud menggenggamnya. Sayangnya, aku lupa jika ia sedang memegang sendok garpu. Sial!

“Beri aku waktu, aku pikirkan dulu” Jawab Ami, sambil meletakkan sendok garpunya, mengambil tanganku, menaruhnya didepanku, lalu menepuk-nepuk punggung tanganku. “Sekarang, aku harus balik kerja dulu,” lanjutnya.

Menyaksikan Ami pergi, batu yang menghimpit dadaku langsung lenyap. Aku menarik nafas sepanjang yang aku bisa. Perlahan-lahan temperatur udara di sekitarku mulai turun. Aku angkat gelas, meminum isinya hingga tandas, rasa manisnya keterlaluan, pasti kebanyakan gula.

***

Sore ini mendung sungguh tebal. Semoga ini bukan pertanda buruk bagiku. Aku tidak percaya pada pertanda. Tapi sulit untuk tidak mengaitkan cuaca dengan apa yang sedang kualami. Aku berharap dalam cemas, menunggu jawaban Ami. Aku jadi tidak bisa berpikir jernih.

Aku tergila-gila pada Ami, gadis itu cantik, dan lucu. Ia suka tertawa pada leluconku. Mungkin aku jatuh cinta padanya. Mungkin aku cuma suka. Aku tidak tahu. Aku senang memikirkan ia jadi milikku. Dan ia akan tertawa pada setiap lelucon yang aku lontarkan, betapapun tidak lucunya. Baru sebatas itu sajalah. Aku baru mengenalnya dua minggu.

Hujan mulai turun. Di trotoar orang-orang berlarian, menghambur ke arah angkutan umum yang mulai serampangan berhentinya. Aku masih duduk di halte, Bis yang aku tunggu belum kelihatan juga. Kakiku mulai gemetaran lagi. Seorang ibu disampingku menatapku dengan aneh, aku balas tatapannya, ia menganggukkan kepala, tersenyum. Mungkin ia bekerja di gedung yang sama denganku, dan ia sering melihatku di lift, atau di kantin. Aku balas mengangguk, tepat ketika ponsel di saku celanaku bergetar. Telepon dari Ami.

“Kalau aku mau, kamu bisa menjanjikan apa buat aku?” tanya Ami, suaranya tertelan deru mesin mobil dan gemuruh hujan.

“Aku nggak bisa menjanjikan apa-apa!” jawabku dengan suara keras, hingga Ibu-ibu tadi menatapku lagi, keningnya berkerut.

“Jadi buat apa aku menerimamu?” tanya Ami lagi, suaranya terdengar seperti di awang-awang, jauh dan tak terjangkau.

Aku terdiam lama. Aku memang tidak tahu jawabannya. Tentang Ami, tentang menyukainya, mungkin aku terburu-buru. Tapi jika aku tidak buru-buru, nanti aku terlambat. Gadis secantik itu, semenarik itu..

“Aku tidak tahu. Tapi bukankah lebih baik jika kita bersama?” jawabku, tanpa berpikir.

“Apa jaminannya?”

Pertanyaan itu menyulut satu titik cerah menyala di kepalaku. Gemetaran yang menjangkiti kakiku hilang dalam sekejap.

“Aku tidak bisa menjamin apapun. Tapi aku bisa menjanjikannya, yaitu, kita akan jadi lebih baik!” jawabku mantap.

Gantian Ami yang terdiam lama. Tapi akhirnya ia mengucapkannya: Ia mau menerimaku. Suaranya terdengar jernih.

Satu perasaan asing merayap di dalam tubuhku, mejalari seluruh sendi hingga pori-pori. Sensasi yang mirip dengan yang pernah kurasakan sewaktu kecil dulu, sewaktu aku akhirnya mampu mengendarai sepeda. Perasaan bahwa kita mampu menaklukkan apa saja. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tiba-tiba saja, gadis cantik itu jadi milikku. Dua minggu!

Bis yang aku tunggu tak kunjung datang. Aku akhirnya jalan kaki menuju rumah. Sementara hujan masih turun, makin lama makin deras. Aku tidak peduli.

Advertisements

4 responses »

  1. Ane selalu belajar dari kisah orang kecil namun berhati besar,, yukk mari sebarkan ilmu seluas-luasnya.. 🙂

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb…

    Bulan Ramadhan membasuh jiwa yang ternoda
    Kini saat meraih rahmat dan ampunan-Nya
    Atas hati, lisan, maupun sikap yang tak terjaga
    Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
    Mohon maaf lahir dan batin

    Minal Aidin Wal Faidzin
    Taqabalallahu minnaa wa minkum

    Salam selalu dari Galeri Siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s