Tragedi Penyanyi Gagal

Aku menyukai Jazz, bahkan mencintainya.  Namun betapa sulit di Kartapura ini untuk menemukan sesosok penyanyi jazz wanita, apalagi yang bersuara merdu. Kayla, ia satu-satunya biduan Jazz yang kutahu. Setiap malam kamis, di kelab malam, Kayla berdiri di panggung, dengan kostum perak, melantunkan balada-balada Jazz dengan iringan piano.

Sepasang penghibur yang lucu sebenarnya. Pianisnya lihai memainkan repertoir jazz nan rumit. Ia bermain piano dengan sepenuh hati, kepalanya selalu bergerak, suatu gerakan khas gabungan antara seperti menggeleng dan mengangguk, seolah ingin mengikuti kemana perginya nada yang dikeluarkan oleh tuts yang tertekan. Sementara Kayla, penyanyinya, suaranya tidak bagus, penyanyi yang rata-rata saja golongannya. Gerak tubuhnya pun minim, sebagaimana mimik wajahnya.

Malam itu Kayla tidak muncul di panggung. Aku tidak tahu sebabnya, hingga keesokan harinya aku membaca beritanya di koran lokal. Tertulis disitu, Kayla ditemukan tewas dengan luka menganga di leher, bibir tersayat, dan lidah terpotong, di apartemennya.

“Mungkin skandal percintaan?”

“Bisa jadi”

“Mungkin perampokan?”

“Mungkin saja”

“Mungkin ada psikopat di Kartapura?”

“Sulit dibayangan, tapi, yah, siapa tahu.”

Skandal cinta segitiga, atau perampokan, atau ada psikopat gila tengah beraksi. Bukankah cinta sanggup membuat seseorang berbuat gila. Bukankah miskin bisa membuat orang berbuat nekat. Bukankah psikopat adalah pembunuh sakit jiwa. Kami yang di Kartapura ini, hanya bisa menduga-duga.

Hingga berminggu-minggu lamanya, belum ada satu pun petunjuk mengenai kasus ini. Bahkan koran tidak lagi memuat beritanya. Kartapura mulai melupakan Kayla, tapi aku tidak. Aku menyukai Jazz, dan Kayla adalah satu-satunya yang aku tahu.

Tanpa Kayla, kelab malam itu menjadi semakin redup. Tapi rasanya aku terlalu sentimentil. Kayla adalah penyanyi yang biasa saja. Kebetulan, ia selalu melantunkan lagu-lagu Jazz yang sendu. Bagiku, Kayla adalah lilin yang menerangi ruang kala mati lampu. Cahayanya redup, namun cukup menolong di dalam gelap.

Tiga bulan hampir berlalu..

Aku melonjak kaget ketika melihat televisi. Polisi berhasil menangkap pembunuh Kayla. Aku langsung mengenali wujud fisik pembunuh itu. Aku hapal gesturnya, gerakan kepalanya yang tidak pernah diam. Dari layar kaca, aku bisa melihat orang itu di borgol, berteriak-teriak seperti orang gila. Dua orang polisi berbadan tegap menyeretnya pada kedua lengannya.

“Suaranya buruk!” demikian teriaknya berulang kali.

Berita soal penangkapan pembunuh Kayla itu hanya berlangsung beberapa menit, disusul oleh iklan, disusul oleh berita tertangkapnya gembong narkotika di kota lain. Pun koran hanya memberitakannya dalam kolom kecil belaka.  Dunia boleh lupa pada Kayla sang penyanyi Jazz bersuara buruk, atau pada pianisnya.

Akan tetapi, aku tidak akan lupa..

Advertisements

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s