Wanita di Linimasa

Aku baru saja bertemu dengan seorang wanita yang menarik. Cantik? Tidak tahu juga aku. Bukankah cantik itu relatif? Dan menurutku, dia relatif.

“Kau aneh!” Kata temanku.

“Memang” jawabku.

“Tapi bagaimana bisa kau katakan kalau dia menarik, sedangkan dia tidak cantik?”

“Baiklah kalau kau ngotot. Begini, aku sebenarnya tidak bisa mengingat betul bagaimana wajah wanita itu.”

“Aneh!”

“Memang aneh”

“Apakah dia langsing? Pinggulnya bagus, bokongnya, kakinya, bagaimana kakinya?” Temanku terus mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan. Semakin di gencar bertanya, semakin aku malas menjawab.

Wanita yang menarik itu tidak kutemui di jalan, atau di bus trans jakarta, ataupun di haltenya. Tidak. Aku tidak pernah berpapasan dengannya sehingga aku tidak tahu benar bagaimana wajahnya. Jika berpapasan pun, aku ragu kalau kami saling mengenal. Wajahnya hanya kukenali lewat foto yang teramat kecil, itu pun bukan foto close-up.

“Wanita itu kujumpai di linimasa, aku menyukai kicauannya.”

“Kicauan? Wanita itu sejenis Burung? Kau tidak mengidap zoofilia kan?”

Aku semakin malas menjelaskan pada temanku yang gagap teknologi dan menyedihkan itu…

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s